Halaman

Sabtu, 13 April 2013

Slowly...

pelan-pelan tapi pasti
aku mulai dapat melupakannya
dia yang sudah bersama yang lain
namun,
seperti tersambar petir di siang hari yang panas dan terik
tak ada hujan, tanpa mendung
calon nakhodanya mendapat panggilan lain
panggilan dari Sang Laksamana Hidup

pelan-pelan aku mulai membayangkan
bagaimana dia,
pujaan hatiku
akan melalui ini
aku terngiang
senyumannya yang biasanya
menghiasi paras cantiknya
sinar anggunnya
akan berubah
menjadi deraian air mata
sesenggukan
menghisap ingusnya sendiri
menahan rasa tak relanya
sungguh ironis

pelan-pelan aku terbayang
bagaimana aku akan menenangkannya
karena yang ku tahu
mungkin aku sudah dia anggap dekat dengannya
yang tahu dia sedang bersama siapa
yang tahu dia sedang memikirkan siapa
yang perlahan ku tahu
ternyata aku menembak dengan jitu

pelan-pelan aku terbayang
jika aku pelan-pelan meninggalkan layar terkembangnya
bagaimana dia menghabiskan dupa hidupnya
apakah memiliki alas pasir di bawahnya
ataukah...
hanya bervaskan air di bawahnya

pelan-pelan aku terbayang
bagaimana denganku
akan menyediakan waktu untuknya
menyajikan masakan terbaik dari hatiku
karena
aku bukanlah siapa-siapa
aku (masih) seperti singa lapar
yang mencari sebongkah daging
sesuap nasi
dan berjalan sesuai arah angin membawa
sangat sangat galau

doaku untukmu
kuatlah kasihku
jadilah wanita tangguh
seperti diriku dari dulu mengagumimu
kaulah Miss Independentku
yang ku tahu
kau wanita perkasa
kaulah wanita pemimpin
kaulah wanita yang dewasa
yang tahu
mana susu
dan
mana nasi aking

doaku untukmu
wahai wanita penawan hatiku
senantiasa berdoalah
pasti akan ada yang lebih baik darinya
tugasnya telah selesai
Tuhan sudah menunjuk penjaga yang sepadan untukmu
dan kau takkan merasa sedih lagi
aku mencintaimu...
L...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar